Sungguh sangat disayangkan bila anak yang merupakan buah hati dari kedua orang tua di biarkan lebih banyak melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat. sangat disayangkan bila orang tua yang merupakan guru pertama bagi seorang anak, yang seharusnya memberikan pendidikan yang layak kepada buah hatinya tetapi justru hanya mengabaikan, apatis, atau masa bodoh terhadap putra-putrinya. sementara tidak kah kita pernah mendengar nasehat dari Rasulullah SAW lewat untaian hadisnya : '' setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah tergantung dari orang tuanyalah yang mau membawa dia jadi yahudi, nasrani, atau majusi. kurang lebih hadisnya seperti itu. tapi ya ng jelas hadis ini cukup memberikan nasehat pada kita semua bahwa orang tualah yang menjadi pewarna terhadap anaknya, ibarat orang tua adalah warna dan anak adalah kertas putih yang kosong, terserah mau dikasi warna apa dari orang tuanya.
peranan orang tua terhadap anak sangatlah besar, baik dari segi pembentukan watak, mental, akhlak, tatakrama, bahkan sampai pada penunjang sukses tidaknya seorang anak. memang dengan cara menyekolahkan anak merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap anak tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua pendidikan didapat dari bangku sekolah, adakalanya pendidkan itu hanya bisa didapat dalam keluarga disinilah peranan sebagai seorang anak sangat menjadi penentu. bahkan dalam pergaulan sehari-hari orang bisa menebak seperti apa bentuk keluarga seseorang dari melihat tingkah laku seorang anak. maka tidak heran bila kita mendapatkan seorang anak yang tidak karuan akhlaqnya lalu dikatain inikah yang diajarkan orang tua anda? demikan halnya sebaliknya sering kita dapat anak yang sungguh indah akhlaqnya yang kemudian dikatakan ''siapakah anak ini kiranya? sungguh dia bersal dari keluarga yang harminis. dari fenomena ini sangat nampak bagaimana peranan orang tua terhadap anak-anaknya.
![]() |
Anak-anak adalah amanah dan asset bagi
kedua orang tua. Anak yang shalih dan shalihah adalah karunia Allah swt
yang begitu besar bagi orang tua. Bagi orang-orang yang tiada beriman,
anak adalah aset masa depan, berharap dapat menjadi tempat bergantung
hidup di hari tua.Sedang bagi orang-orang yang beriman, anak adalah aset
akhirat yang tiada ternilai harganya.
Meski kita telah berkalang tanah dan
telah meninggalkan alam dunia ini, kebaikan dan pahala akan terus
mengalir dikarenakan kita berhasil mendidik anak-anak kita menjadi anak
yang shalih dan shalihah. Pahala itu akan terus mengalir, akan terus
menemani hari-hari di alam barzah. Inilah yang dijanjikan oleh Allah
Azza wa Jalla lewat Rasulullah saw dalam sebuah sabda beliau,
“Ketika anak Adam meninggal dunia,
maka akan putuslah semua amalnya, kecuali tiga hal, ilmu yang
bermanfaat, shadaqah yang mengalir, dan anak yang shalih yang selalu
mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’I dan
Ahmad)
Itulah sebab, akan sangat rugi jika
seseorang sudah dikaruniai anak, tetapi dia tidak sungguh-sungguh dalam
mendidiknya menjadi anak shalih atau mendidiknya tidak benar-benar
sesuai tuntunan Islam. Potensi dan peluang besar untuk mendapatkan anak
shalih, yang akan selalu mendoakan kedua orang tua, tersia-sia dan
terlewat begitu saja. Berdasar pemahaman itu, maka seharusnya orang tua
sangat antusias dan bersemangat dalam mendidik anak-anaknya sesuai
tuntunan Islam. Pendidikan terbaik yang kita berikan kepada anak-anak
kita sesungguhnya hasilnya akan kembali kepada diri kita sendiri.
(Ingatlah) ketika Luqman berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman (31) ; 13)
Bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita, akan seperti itu pula
anak-anak akan memperlakukan kita sebagai orang tua mereka.
Bila kita melihat dan paham bagaimana Rasulullah saw dalam mendidik anak dan kita mencontohnya niscaya output seorang anak juga akan membanggakan orang tuanya itu sendidri. Rasulullah saw sangat penyayang terhadap anak-anak, baik itu keturunan beliau sendiri maupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa suatu saat Rasulullah saw mencium Hasan bin Ali dan di dekat beliau ada Al-Aqra’bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Al-Aqra’ kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw segera memandang kepadanya dan berkata, “Barang siapa yang tidak mengasihi,maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari)
Rasulullah saw juga mencontohkan
bagaimana memperlakukan anak –anak dengan penuh kasih sayang. Beliau
tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau bahkan ketika shalat.
Beliau bahkan menggendong cucu beliau ketika shalat dan meletakkannya
ketika sujud. Beberapa shahabat juga meriwayatkan bagaimana beliau
berlaku lemah lembut kepada anak-anak. Karena itu, beberapa sikap dan
perbuatan yang bertolak belakang dengan apa-apa yang dicontohkan
Rasulullah saw dalam mendidik anak, adalah sebuah kejahatan terhadap
anak dan merupakan kesalahan fatal yang dilakukan orang tua dalam
mendidik anak-anak. Beberapa kesalahan fatal yang dilakukan orang tua
dalam pendidikan anak dan , adalah sebagai berikut ;
1.Memaki dan menghina anak ; Hal ini
biasanya terjadi ketika orang tua mulai menilai kekurangan anak dan
memaparkan kebodohannya. Bahkan mereka melakukan hal tersebut di depan
teman-teman si anak atau di depan orang lain. Termasuk hal ini adalah
memberi gelar yang buruk kepada anak atau memberi nama panggilan dengan
nama yang buruk.
baiknya bila orang tua melihat ada kekurang dari dalam diri seorang anak menasehatinya dengan ramah bukan memakin masih banyak cara mendidik anak dengan cara menegurnya tanpa menghinanya.
baiknya bila orang tua melihat ada kekurang dari dalam diri seorang anak menasehatinya dengan ramah bukan memakin masih banyak cara mendidik anak dengan cara menegurnya tanpa menghinanya.
2.Melebihkan seorang anak dari anak yang
lain ; Memberi lebih kepada salah seorang anak dan mengabaikan anak yang
lain adalah juga kesalahan fatal yang sering dilakukan orang tua. Hal
ini sering memicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orang
tuanya dan menjadi sebab permusuhan antar saudara. Apalagi jika orang
tua yang memberi perhatian lebih kepada seorang anak ini mengabaikan
anak yang lain yang kebetulan memiliki kekurangan atau cacat fisik, maka
akibat yang ditimbulkannya bisa lebih besar lagi.
3.Mendoakan keburukan bagi anak; Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga doa yang dikabulkan; doa orang yang teraniaya, doa musafir dan doa orang tua atas anaknya.” (HR Tirmidzi) Jika
doa orang tua adalah doa yang dikabulkan, kenapa orang tua tidak berdoa
dan meminta hal-hal yang baik saja kepada Allah swt. Jika kebetulan
anaknya adalah anak yang bandel dan sulit diajak untuk mengikuti
tuntunan Islam atau anak yang tidak patuh kepada orang tua, kenapa orang
tua lebih suka mendoakan hal-hal yang buruk ( menyumpah dan
melaknatnya) ? Tidak inginkah orang tua anaknya berubah menjadi lebih
baik, atau, apakah mereka lebih suka anaknya berperangai lebih buruk
akibat doa-doanya (omelan dan laknat) ? Harusnya orang tua tidak
mendoakan keburukan bagi anak-anaknya dengan omelan panjang-pendek tiada
henti meluncur dari lidah. Atau…alangkah baiknya jika sulit menahan
omelan,lalu “Omelan” tersebut diganti dengan doa dan harapan yang
baik-baik, seperti misalnya :”Aduh, kamu ini…ibu pengen setelah ini kamu itu gak bandel lagi. Ibu kesel
dengan tingkah kamu, mudah-mudahan setelah ini Allah berikan hidayah
dan kamu jadi anak shalih…bla…bla…bla….” Dan tentu saja, tidak mengomel
akan jauh lebih baik, menggantinya dengan nasihat lembut dan memberi
teladan yang baik. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah memohon
kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan mengarahkan dan mendidik anak
menjadi anak shalih dan shalihah.
4.Tidak memberi pendidikan kepada anak ;
Tidak peduli kepada pendidikan anak dan membiarkan anak mencari sendiri
apa-apa yang diinginkan adalah kesalahan fatal yang lain. Ada kalanya,
orang tua merasa cukup dengan membiarkan anaknya tumbuh sesuai keinginan
dan bakat yang dimilikinya. Mereka merasa dengan begitu dia telah
memberi kebebasan kepada anak dan tidak mengekang bakat yang dimiliki.
Lalu orang tua merasa tidak perlu mengarahkan anaknya sesuai dengan
tuntunan Islam, tidak merasa bersalah ketika anaknya tidak bisa membaca
Al Qur’an atau tidak mengerti hukum fiqh, merasa tidak bersalah ketika
anaknya tidak mengerjakan shalat lima waktu, dsb . Dan bahkan orang tua
merasa bangga ketika sang anak menjadi penyanyi mengikut bakat yang
dimiliki, atau menjadi bintang film sesuai keinginan sang anak. Ini
adalah kesalahan fatal, dimana orang tua melalaikan dien untuk
anak-anaknya. Tauhid yang menjadi pondasi kehidupan buat anak-anaknya
lupa ditanamkan dan alih-alih menjadi anak yang shalih atau shalihah,
anak-anak justru tumbuh jauh dari ketaatan menjalankan ajaran agamanya
dan bahkan tidak paham akan tujuan hidup mereka.
Jadi, orang tua harus memberikan
pendidikan yang dapat mengantarkan anak-anak hidup bahagia di dunia dan
akhirat. Pendidikan yang membuat anak-anak taat dan patuh kepada
perintah Allah swt dan Rasul-Nya. Allah swt berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
dari manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim (66): 6)
Marilah kita jaga anak-anak kita dengan
memberi pujian yang benar, bersikap adil di antara mereka, mendoakan
yang baik serta mendidik mereka dengan dien dan kecakapan yang
diperlukan dalam kehidupan. Dengan begitu, anak-anak akan menjadi anak
yang shalih dan shalihah dan menjadi aset kita yang berharga di dunia
dan di akhirat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin
pustaka:
Ummu Fauzi Untuk Al-Mustaqbal.net.
syiar syair pps malikiyah as'adiyah
pustaka:
Ummu Fauzi Untuk Al-Mustaqbal.net.
syiar syair pps malikiyah as'adiyah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar